Makanan Tradisional Solo yang Sudah Ada Sejak Zaman Keraton
![]() |
| Kuliner Otentik |
1. Serabi Notosuman
Serabi Notosuman adalah salah satu makanan legendaris yang
sudah ada sejak masa lampau. Meski terlihat sederhana, proses pembuatannya
sangat khas. Adonan tepung beras yang dipanggang menggunakan tungku tanah liat
menciptakan aroma wangi yang tidak bisa ditiru oleh metode modern. Serabi ini
terkenal dengan tekstur lembut di bagian tengah dan sedikit renyah di
pinggirnya. Pada masa keraton, serabi disajikan sebagai hidangan untuk tamu
kehormatan dan acara adat tertentu.
2. Tengkleng Kambing
Tengkleng merupakan masakan tradisional Solo yang konon dulu
muncul dari kreativitas rakyat jelata pada era keraton. Bagian daging terbaik
dimakan oleh bangsawan, sementara tulang dan sisa daging diberikan kepada
rakyat. Dari bahan sederhana inilah tercipta tengkleng dengan kuah gurih-rempah
dan rasa yang kaya. Saat ini, tengkleng menjadi salah satu ikon kuliner Solo
yang diburu wisatawan karena cita rasanya yang unik, terutama potongan tulang
berisi sumsum yang begitu menggugah selera.
3. Timlo Solo
Timlo adalah hidangan berkuah bening dengan isian telur
pindang, sosis solo, suwiran ayam, dan kadang ditambah ati ampela. Meski
terlihat mirip sup, timlo sebenarnya merupakan makanan keraton yang dibuat
untuk sajian keluarga bangsawan. Teknik memasaknya yang menggunakan rebusan
kaldu ayam lama dan bumbu halus menciptakan rasa gurih lembut yang khas. Timlo
Solo hingga kini menjadi menu wajib saat acara hajatan dan jamuan resmi.
4. Selat Solo
Selat Solo sering disebut “bistik Jawa” karena terinspirasi
dari pengaruh masakan Belanda yang masuk pada masa kolonial. Namun, masyarakat
Solo mengolahnya dengan sentuhan bumbu Jawa sehingga rasanya lebih ringan dan
manis gurih. Dulu, makanan ini biasa disajikan di lingkungan bangsawan sebagai
hidangan mewah. Perpaduan sayuran rebus, daging, kuah encer beraroma pala, dan
mustard Jawa menjadikan Selat Solo sangat unik dan berbeda dari bistik Eropa.
5. Cabuk Rambak
Cabuk Rambak merupakan makanan rakyat khas Solo yang sudah
ada sejak era keraton. Hidangan ini berbahan dasar ketupat kecil yang disiram
saus dari wijen, kemiri, dan kelapa parut sangrai. Rasanya gurih dan sedikit
smoky. Ia biasanya disajikan dalam daun pisang, mencerminkan cara makan
tradisional yang dipegang teguh oleh masyarakat Solo sejak dulu. Meski
sederhana, makanan ini punya posisi penting dalam kuliner keraton karena sering
dihidangkan pada acara adat.
6. Sosis Solo
Sosis Solo bukanlah sosis seperti kebanyakan, melainkan
semacam roll daging dengan kulit lembut berbahan tepung dan telur. Di zaman
keraton, makanan ini menjadi sajian untuk tamu penting karena tampilannya rapi
dan aromanya harum. Sosis Solo memiliki dua versi, yaitu goreng dan kukus.
Keduanya memiliki rasa manis gurih khas masakan Jawa yang masih dipertahankan
hingga sekarang.
7. Nasi Liwet Solo
Nasi Liwet adalah kuliner klasik yang dibuat dari nasi gurih
dimasak santan, disajikan dengan suwiran ayam, areh kental, dan labu siam. Pada
masa lampau, nasi liwet sering dihidangkan untuk acara kerajaan dan ritual
tertentu. Sampai sekarang, keaslian rasanya tetap dipertahankan oleh para
penjual tradisional yang menggunakan tungku kayu bakar untuk menjaga aroma dan
cita rasa.
8. Jenang Sapar
Jenang Sapar adalah makanan tradisional yang dibuat khusus
untuk peringatan bulan Sapar pada kalender Jawa. Makanan ini erat dengan
tradisi keraton dan masyarakat Solo yang percaya bahwa jenang melambangkan doa
keselamatan. Teksturnya lembut dan rasanya manis gurih, terbuat dari tepung
beras, santan, dan gula merah. Kini, jenang sapar masih dibuat pada waktu-waktu
tertentu sebagai bentuk pelestarian budaya.
9. Soto Gading
Soto Gading adalah salah satu kuliner yang sering dikaitkan
dengan lingkungan keraton karena lokasinya dekat wilayah pusat pemerintahan
Surakarta. Kuahnya bening, ringan, namun kaya kaldu. Dulu, soto ini dianggap
menu yang cocok untuk sarapan para abdi dalem dan tamu keraton. Hingga kini,
Soto Gading tetap dipertahankan keasliannya.
Makna Filosofis Kuliner Keraton Solo
Setiap makanan tradisional Solo tidak hanya menawarkan rasa,
tetapi juga nilai budaya. Dalam tradisi keraton, makanan sering kali
melambangkan keharmonisan, kesopanan, dan rasa syukur. Misalnya, penggunaan
daun pisang sebagai pembungkus menandakan kedekatan manusia dengan alam.
Sementara rasa manis pada banyak makanan Jawa dianggap sebagai simbol keramahan
orang Solo.
Penutup
Makanan-makanan tradisional Solo di atas bukan hanya warisan
kuliner, melainkan cerminan sejarah panjang peradaban Jawa. Dengan
mencicipinya, kita turut melestarikan budaya yang sudah berlangsung ratusan
tahun sejak zaman keraton. Jadi, jika kamu berkunjung ke Solo, jangan lewatkan
kesempatan untuk merasakan kekayaan rasa yang sarat nilai sejarah ini.
